Jumat, 20 Januari 2012

SYIAH

Selama ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia sendiri menilai bahwa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Ini disebabkan beberapa hal mendasar yaitu kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah, di kalangan mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas, tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana berkembang, tidak melihat bagaimana sejarahnya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari hal-hal tersebut, akhirnya orang Islam yang umum meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.

Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.

Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari.


Abdullah bi Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad saw seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bi Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).

Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.Pada periode abad pertama Hijriah, aliran Syi’ah belum menjelma menjadi aliran yang solid. Barulah pada abad kedua Hijriah, perkembangan Syiah sangat pesat bahkan mulai menjadi mainstream tersendiri. Pada waktu-waktu berikutnya, Syiah bahkan menjadi semacam keyakinan yang menjadi trend di kalangan generasi muda Islam: mengklaim menjadi tokoh pembaharu Islam, namun banyak dari pemikiran dan prinsip dasar keyakinan ini yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri.
Perkembangan Syiah
Bertahun-tahun lamanya gerakan Syiah hanya berputar di Iran, rumah dan kiblat utama Syiah. Namun sejak tahun 1979, persis ketika revolusi Iran meletus dan negeri ini dipimpin oleh Ayatullah Khomeini dengan cara menumbangkan rejim Syah Reza Pahlevi, Syiah merembes ke berbagai penjuru dunia. Kelompok-kelompok yang mengarah kepada gerakan Syi’ah seperti yang terjadi di Iran, marak dan muncul di mana-mana.
Perkembangan Syi’ah, yaitu gerakan yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait ini memang cukup pesat, terlebih di kalangan masyarakat yang umumnya adalah awam dalam soal keagamaan, menjadi lahan empuk bagi gerakan-gerakan aliran sempalan untuk menggaet mereka menjadi sebuah komunitas, kelompok dan jama’ahnya.
Doktrin Taqiyah
Untuk menghalangi perkembangan Syi’ah sangatlah sulit. Hal itu dikarenakan Syi’ah membuat doktrin dan ajaran yang disebut “taqiya.” Apa itu taqiyah? Taqiyah adalah konsep Syiah dimana mereka diperbolehkan memutarbalikkan fakta (berbohong) untuk menutupi kesesatannya dan mengutarakan sesuatu yang tidak diyakininya. Konsep taqiya ini diambil dari riwayat Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau berkata: “Taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Seseorang tidak dianggap beragama bila tidak bertaqiyah.” (Al-Kaafi, jus II, h. 219).



Jadi sudah jelas bahwa Syi’ah mewajibkan konsep taqiyah kepada pengikutnya. Seorang Syi’ah wajib bertaqiyah di depan siapa saja, baik orang mukmin yang bukan alirannya maupun orang kafir atau ketika kalah beradu argumentasi, terancam keselamatannya serta di saat dalam kondisi minoritas. Dalam keadaan minoritas dan terpojok, para tokoh Syi’ah memerintahkan untuk meningkatkan taqiyah kepada pengikutnya agar menyatu dengan kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berangkat Jum’at di masjidnya dan tidak menampakkan permusuhan. Inilah kecanggihan dan kemujaraban konsep taqiyah, sehingga sangat sulit untuk melacak apalagi membendung gerakan mereka.

Padahal, arti taqiyah menurut pemahaman para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, taqiyah tidaklah wajib hukumnya, melainkan mubah, itupun dalam kondisi ketika menghadapi kaum musrikin demi menjaga keselamatan jiwanya dari siksaan yang akan menimpanya, atau dipaksa untuk kafir dan taqiyah ini merupakan pilihan terakhir karena tidak ada jalan lain.
Doktrin taqiyah dalam ajaran Syi’ah merupakan strategi yang sangat hebat untuk mengembangkan pahamnya, serta untuk menghadapi kalangan Ahli Sunnah, hingga sangat sukar untuk diketahui gerakan mereka dan kesesatannya.

Kesesatan-kesesatan Syiah




Di kalangan Syiah, terkenal klaim 12 Imam atau sering pula disebut “Ahlul Bait” Rasulullah Muhammad saw; penganutnya mendakwa hanya dirinya atau golongannya yang mencintai dan mengikuti Ahlul Bait. Klaim ini tentu saja ampuh dalam mengelabui kaum Ahli Sunnah, yang dalam ajaran agamanya, diperintahkan untuk mencintai dan menjungjung tinggi Ahlul Bait. Padahal para imam Ahlul Bait berlepas diri dari tuduhan dan anggapan mereka. Tokoh-tokoh Ahlul Bait (Alawiyyin) bahkan sangat gigih dalam memerangi faham Syi’ah, seperti mantan Mufti Kerajaan Johor Bahru, Sayyid Alwi bin Thahir Al-Haddad, dalam bukunya “Uqud Al-Almas.”

Adapun beberapa kesesatan Syiah yang telah nyata adalah:
  1. Keyakinan bahwa Imam sesudah Rasulullah saw. Adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib r.a.
  2. Keyakinan bahwa Imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
  3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
  4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
  5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib sendiri karena keyakinan tersebut.
  6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
  7. Keyakinan mencaci maki ara sahabat atau sebagian sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, hal.237).
  8. Pada abad kedua Hijriah perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaeni dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.
Saat ini figur-figur Syiah begitu terkenal dan banyak dikagumi oleh generasi muda Islam, karena pemikiran-pemikiran yang lebih banyak mengutamakan kajian logika dan filsafat. Namun, semua jamaah Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia, sudah bersepakat adanya bahwa Syiah adalah salah satu gerakan sesat. (sa/berbagaisumber)

in english :

 So far, the majority of people always assume Shiite parts of Islam. The majority of Muslims around the world alone assess that determine attitudes toward the Shiites is something that is difficult and confusing. This caused some fundamental things: the lack of information about the Shia. Shiites, a majority among the Muslims is the existence of which is unclear, it is unknown what effect, how to develop, do not see how its history, and can not be predicted how at a later date. Departing from these things, eventually the public believes that Shiite Islam is nothing but one of the sects of Islam, such as Shafi, Maliki and the like.


But in fact there is a difference between Shia and Islam. That said, Shiite Islam with similar but different. Physically, it is difficult to distinguish between the adherents of Shia Islam, but if examined further and more profound, especially in terms of aqeedah differences between Islam and the Shiites are enormous. Proverbial, and Shia Islam like oil and water, that it was impossible to put together.


Shiite followers etymologically means language, sect and class person. As for the Shari'ah terminology means: Those who love to impersonate with the slogan 'Ali ibn Abi Talib and his descendants that Ali ibn Abi Talib was greater than all the Companions and more right to hold the reins of leadership of the Muslims, as well as after the death of his children and grandchildren. (Al-Fil Fishal Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2 / 113, Ibn Hazm). Being in terms of Personality ', Shia is a flow arising from the reign of Uthman ibn Affan, led by Abdullah bin Saba' al-Himyari.
Abdullah bi Saba 'introducing his teachings openly and mobilize the masses to proclaim that the leadership (Imamate) after the Prophet Muhammad should fall into the hands of Ali bin Abi Talib as a nass (text) Prophet. According to Abdullah bin Saba ', Caliph Abu Bakr, Umar and Uthman have taken over the position. In Majmoo 'Fatawa, 4 / 435, Abdullah bi Shaba showed an extreme position in honor Ali, with a slogan that Ali has the right to become priests (caliphate) and he is a Ma'shum (awake from all sins).


Confidence is growing constantly from time to time, until the menuhankan Ali ibn Abi Talib. Because it is a lie, then an action taken by Ali ibn Abi Talib, that they were burned, and some of them fled to the first century Hijri Madain.Pada period, the flow has not been transformed into a Shiite solid flow. It was only in the second century Hijri, Shias very rapid development of even starting to become mainstream itself. At subsequent times, Shiites and even becomes a kind of confidence that a trend among the younger generation of Islam: Muslim reformers claim to be leaders, but many of the basic principles of thought and belief is incompatible with Islam itself.
Development of Shi'a
For years only rotating movement of Shiite Iran, Shiite house and the main direction. But since 1979, just as the Iranian revolution erupted and the country is led by the Ayatollah Khomeini regime by overthrowing the Shah Reza Pahlavi, Shia seeping across the world. The groups that lead to the Shiite movement as happened in Iran, glow and appear everywhere.
Development of the Shia, the motion on behalf of schools of Ahlul Bait is indeed quite rapidly, especially among people who generally are the laity in religious matters, a land tender for splinter movements flow to hook them into a community, group and jama'ahnya .
Doctrine Taqiyah
To discourage the development of Shiite very difficult. That's because the Shia make the doctrines and teachings of the so-called "taqiya." Taqiyah What is it? Taqiyah is a concept in which they allowed Shiite distort the facts (lying) to cover the backslidings and express something that is not believed. Taqiya concept is taken from the history of Imam Abu Ja'far al-Sadiq, he said: "Taqiyah is my religion and the religion of my fathers. A person is not considered religious if not bertaqiyah. "(Al-Kaafi, juice II, p. 219).




So it is clear that the Shiite concept requires taqiyah his followers. A Shiite mandatory bertaqiyah in front of anyone, whether believers or non-flow or when defeated infidels argue, threatened his safety as well as at the time the condition of minorities. In a minority situation and cornered, Shiite leaders to improve taqiyah ordered his followers to be united with the Ahlus Sunnah wal Jama'ah, depart Friday at the mosque and did not show hostility. This is the sophistication and efficacy taqiyah concept, making it very difficult to track their movements much less stem.


In fact, according to the understanding of the meaning taqiyah Experts Sunnah wal Jama'ah scholars, based on the Qur'an and Sunnah, taqiyah not obligatory, but permissible, and even then in a condition when faced with the musrikin order to maintain the safety of his soul from the torment will befall , or forced to infidels and taqiyah this is the last option because there is no other way.
Taqiyah doctrine of Shi'ism is a great strategy to develop their understanding, and to confront the Expert Sunnah, until very difficult to know their movements and backslidings.


The evils of Shiite
Among Shiites, Imam famous claim 12 or sometimes called "Ahlul Bait" Prophet Muhammad; adherents indict only himself or group who love and follow the Ahlul Bait. This claim of course to fool the experts powerful tools in the Sunnah, which in the teachings of their religion, are commanded to love and high menjungjung Ahlul Bait. Though the priests Ahlul Bait innocent of their accusations and assumptions. Figures of Ahlul Bait (Alawiyyin) even very persistent in the fight against Shiite ideology, such as the former Mufti of the Kingdom of Johor Bahru, Syed Alwi ibn Tahir al-Haddad, in his book "Al-Almas Uqud."


As for some of the Shiite heresy that has been obvious is:

    
The belief that the Imams after the Prophet. Was Ali ibn Abi Talib, in accordance with the Prophet. So the Caliph accused of robbing the leadership of the hands of Ali bin Abi Talib ra
    
The belief that they are infallible Imam (awake from wrong and sin).
    
The belief that Ali ibn Abi Talib and the Imams who have died will live again before the day of Judgement to get revenge on his opponents, namely Abu Bakr, Umar, Uthman, Aisha, etc..
    
The belief that Ali ibn Abi Talib and the Imams know the unseen secrets, both past and future. This means the same as menuhankan Ali and Imam.
    
Beliefs about the divinity of Ali ibn Abi Talib, which was declared by the followers of Abdullah bin Saba 'and eventually they were sentenced to burn by Ali ibn Abi Talib himself because of that belief.
    
Confidence priority of Ali ibn Abi Talib Abu Bakr and Umar bin Khattab. Though Ali's own take legal action against the whip 80 times the people who believe the lie.
    
Confidence revile fig friend or some of his companions as Uthman bin Affan (see Dirasat fil Ahwaa 'Firaq wal wal Bida' Salaf wa Mauqifus minhaa, Dr. Nasir bin Abd. Karim Al Aql, p.237).
    
In the second century AH Shiite faith development intensified as the flow that have a variety of tools and raw confidence continues to grow until the founding of the dynasty Fathimiyyah Sofawiyyah dynasty in Egypt and in Iran. Finally the flow is held back by the revolution Khomaeni and serve as the official state flow Iran since 1979.
Currently Shiite figures are so well known and much admired by the younger generation of Muslims, because the ideas are more priority to the study of logic and philosophy. However, all the Sunnah wal Jamaat pilgrims around the world, have agreed that the Shiites are one of the heretical movement.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar